"Li Cheng, suamiku... tolong, serahkan sajja artefaknya... Aku tidak bisa membiarkan mereka menyentuh anak-anak kita!" suara Nyonya Li terdengar putus asa, meski di dalam hatinya ia menyusun rencana.

Walikota Li Cheng menatap istrinya dengan ekspresi penuh penderitaan. Ia mengepalkan tangannya, rahangnya mengeras, lalu menutup mata sesaat sebelum akhirnya mendesah berat. "Baiklah... Aku akan membawamu ke tempatnya..."

Huo Zhen menyeringai puas. "Bagus! Kau akhirnya bisa berpikir jernih, Li Cheng. Ayo, tunjukkan jalannya!"

Dengan langkah tertatih, Walikota dan Nyonya Li memimpin mereka menuju kamar Li Mei, tempat ruang rahasia itu berada. Huo Zhen dan anak buahnya mengikuti dari belakang, mata mereka penuh keserakahan. Mereka tidak menyadari bahwa pasangan itu sebenarnya tengah membawa mereka ke jebakan yang mematikan.

Ketika Li Cheng tiba di kota ini dan menjadi walikota, secara diam-diam dia memerintahkan orang-orang kepercayaannya membangun ruang rahasia di salah satu bangunan rumah walikota. Ruang rahasia itu terdapat lorong panjang, dimana di desain dengan banyak jebakan, dan salah satunya terdapat kontrol penghancur dimana lorong tersebut akan mengeluarkan racun dan runtuh menimbun orang didalamnya. Diperkirakan level grandmaster pun akan kesulitan keluar dari tempat itu karena pengaruh racun dan jebakan formasi yang ada didalamnya.

Tempat rahasia itu dibangun, karena sangat berbahaya membawa artefak di cincin penyimpanan. Namun sejak Li Mei sakit, mereka memindahkan kamar Li Mei keruangan tersebut agar bisa sekaligus menjaga, terutama karena mereka melihat jejak mencurigakan adaya pihak yang mengintai mereka selama beberapa bulan terakhir meski  mereka belum mengetahui apa alasan sebenarnya yang dicari oleh mereka.

Li Cheng masih merasa yakin, jika tidak ada yang mengetahui artefak tersebut bersamanya, karena sudah disembunyikan selama puluhan tahun rahasia tersebut.

Namun, begitu mereka tiba, Nyonya Li terkejut. Pintu menuju ruang rahasia sudah terbuka lebar.

"Apa... bagaimana bisa?" bisiknya, tubuhnya membeku di tempat.

Walikota segera memasuki lorong dan memeriksa ruangan, wajahnya mengeras. "Seseorang sudah mengambilnya lebih dulu...!"

Huo Zhen mencium udara dan mengerutkan dahi. Seketika, matanya menyipit penuh kebencian. "Ini... aroma parfum Chen Xue! Wanita jalang itu!" desisnya. "Dia pasti pelakunya!"

Luo Zhen, Grandmaster Fana berjuluk "Api Maut Tanpa Ampun",yang sejak tadi diam setelah melukai walikota, tiba-tiba mengeluarkan auranya yang menakutkan. Energi api menyala di sekeliling tubuhnya, menciptakan tekanan yang membuat semua orang terdiam. Dia mendapat julukan itu karena sosoknya yang sangat ditakuti karena kekejamannya yang suka membakar musuh-musuhnya dengan elemen api kekuatannya,

"Sudah cukup aku melihat omong kosong ini dari tadi!" suara Luo Zhen terdengar dingin dan mematikan. Ia melirik Huo Zhen lalu menarap walikota dengan penuh ketidaksabaran, dia merasa yakin, walikota tidak berbohong mengenai seseorang sudah mendahului, karena bekas jejak beberapa jebakan yang aktif masih terlihat. "Jika memang artefak itu tidak bisa mereka berikan, bunuh mereka semua yang ada di kediaman Walikota. Jangan tinggalkan saksi."

Huo Zhen menegang. "Grandmaster Luo Zhen, tunggu—"

Tatapan tajam penuh amarah dilemparkan Luo Zhen padanya. "Dan kau, Huo Zhen... Jika artefak itu tidak ditemukan, kau akan mati di tanganku."

Huo Zhen menelan ludah, wajahnya sedikit memucat. "Tentu, tentu! Aku tidak akan mengecewakanmu, Grandmaster!"

Luo Zhen tidak menunggu lebih lama. Ia bersama kedua rekannya yang berada di ranah Foundation Emas Hitam berkelebat pergi, membawa Li Mei yang masih tidak sadarkan diri serta Nyonya Li yang menjerit ketakutan. Hanya dalam hitungan detik, mereka menghilang dari pandangan.

Huo Zhen menghela napas panjang sebelum menoleh pada Walikota yang sudah tidak memiliki harapan lagi. Ia tersenyum sinis. "Maaf, Li Cheng. Kau sudah tidak berguna lagi."

Saat Huo Zhen mengangkat pedangnya untuk menghabisi Walikota, tiba-tiba—

Srekk!

Sebuah tangan mencengkeram pergelangan Huo Zhen dengan kuat. Ia terkejut dan menoleh. Seorang pemuda berdiri disana dengan ekspresi datar, matanya penuh ketidakmengertian. Lynx.

"Apa yang kau lakukan?" Lynx bertanya, suaranya terdengar datar namun mengandung ketegasan.

Huo Zhen mengernyit, lalu terkekeh. "Siapa kau? Jangan ikut campur!"

Sementara itu,  di pasar tempat Judi Batu diadakan, Li Wei terjebak dalam kebingungan yang mendalam. Xiao Ling, yang seharusnya berada tepat di sampingnya, mendadak menghilang tanpa jejak, tepat saat kelima batu Huo Tao kini telah dibelah semua, memperlihatkan kristal roh yang berkilau di dalamnya.

"Li Wei, ke mana Xiao Ling?" tanya Jelita, setelah menyadari sosok Lynx yang biasanya berdiri di belakangnya kini lenyap.

Pertanyaan itu membuat Ling Mei menoleh, pikirannya melayang, "Dia pasti melarikan diri karena malu dan merasa pasti akan kalah."

"Aku tidak tahu, tiba-tiba saja dia menghilang," jawab Li Wei, kebingungan jelas tergambar di wajahnya.

Jelita mulai mencari sosok Lynx di sekeliling, menyadari sifat kepala sukunya yang tak mungkin melarikan diri tanpa alasan yang jelas. "Li Wei, apakah Xiao Ling tidak sempat menanyakan sesuatu kepadamu?" tanyanya, harap-harap cemas.

"Dia hanya bertanya di mana keberadaan Komandan Jiang dan rumahku," kata Li Wei setelah terdiam beberapa saat, berusaha mengingat.

"Biarlah, mungkin dia tidak ingin melihat hasilnya. Kamu lain kali harus berhati-hati, Li Wei. Jangan sembarangan berteman," kata Ling Mei dengan nada ketus, sorot matanya tetap terasa dingin.

Jelita menatap tajam wajah Ling Mei, menahan rasa marah yang berkobar. "Kamu... jangan mentang-mentang wajahmu mirip Leena, lalu berani berkata buruk tentang Xiao Ling. Kamu tidak tahu perjuangan yang dia hadapi," kata Jelita pelan, nada marahnya tertekan karena menyadari mereka berada di keramaian.

"Leena? Apa maksudmu? Pemuda itu juga menyebut Leena. Apakah itu nama manusia?" tanya Ling Mei, merasa asing dengan nama tersebut.

Li Wei tidak ingin menjawab dan malah memandang Jelita. "Apakah kamu yakin tidak ada yang terlewatkan?" tanyanya, panik dan takut ditinggal.

"Tunggu! Aku ingat, sikapnya terasa aneh saat memandang ke arah rumahku. Setelah itu, dia menghilang," jawab Li Wei, nada ragu menghiasi suaranya.

"Dia pasti ke sana," batin Jelita, nalurinya mulai bergetar.

"Di mana arah rumahmu?" tanya Jelita, segera berlari menuju arah yang ditunjukkan Li Wei, langkahnya terburu-buru namun penuh tekad.

Li Wei, yang khawatir akan keselamatan Jelita, segera mengejar langkahnya, diikuti oleh para kakak seperguruannya dan Ling Mei.

Huo Tao, yang menyadari kepergian mereka, merasakan amarah menggelora dalam dirinya. "Kenapa mereka pergi? Apakah mereka sudah menyadari bahwa ada sesuatu yang terjadi di rumah mereka?" batinnya, jiwanya dipenuhi rasa curiga.

Sun Fang, melihat Lynx yang kini tidak lagi ada di tempat itu serta rombongan Li Wei yang segera pergi, mendekati Huo Tao dengan senyuman mengejek. "Mereka takut kepadamu, Tuan Muda, sehingga pergi karena malu," katanya sambil tertawa, nada sarkastis mengalir dalam suaranya.

"Diam!" bentak Huo Tao, kesal. Sebelumnya, dia telah diberi tugas untuk mengalihkan perhatian Li Wei dan para kakak seperguruannya, agar mereka tidak terlibat masalah dengan Sekte Api Langit. Karena itu, dia telah bersiap-siap dengan rencana matang. Namun, dia tidak menduga mereka akan pergi secepat ini, terpengaruh oleh pemuda yang ditantangnya.

Beberapa saat sebelumnya, Xiao Ling merasakan kembali fluktuasi energi yang membuatnya semakin tidak nyaman. Dengan naluri yang tajam, ia memilih untuk memeriksa situasi tersebut. Dalam sekejap, ia melompat ke atas dan berlari menuju arah fluktuasi energi yang terasa kuat meninggalkan Jelita dan yang lainnya.

Ketika tiba di rumah Walikota, Lynx heran melihat tidak adanya para penjaga. Dan dia tambah terkejut mendapati Komandan Jiang terbaring dengan luka parah. Tanpa membuang waktu, ia segera mengalirkan energi saktinya untuk mengobati sang komandan. Setelah merasakan kondisinya sudah membaik, Lynx bergerak memeriksa keadaan. Tidak lama kemudian, pandangannya tertuju pada dua sosok yang sedang berhadapan, di mana salah satunya berniat membunuh lawannya. Merasa tidak mengenali kedua belah pihak, Lynx segera mencengkram pergelangan tangan pria yang memegang pedang.

Namun, ketika Lynx melihat ekspresi orang-orang di sekitarnya, ia mulai memahami situasi. Mata pemuda itu menyipit.

"Jadi kau yang menyebabkan semua ini..."

